Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Agustus 2014

Belajar dari Kisah Landak | Renungan Harian

Belajar dari Landak - Pada musim salju yang amat dingin, terdapat banyak binatang yang tidak bisa bertahan menahan suhu yang terlalu rendah. Sebagian dari mereka bahkan mati akibat cuaca ekstrim ini. Hal yang sama juga dirasakan oleh sekelompok landak. Mereka tinggal secara berkelompok dalam sebuah gua demi mencari kehangatan. Akhirnya, para landak memutuskan untuk berdekatan untuk menghalau hawa dingin yang menusuk. Tetapi yang terjadi adalah mereka saling melukai, hal ini karena duri yang ada pada tubuhnya.

Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menjaga jarak, agar tidak lagi terluka oleh duri tersebut. Akibatnya adalah sekelompok landak ini sangat merasakan kedinginan dan bahkan hampir mati. Sehingga mereka bimbang untuk memilih antara terluka karena duri atau mati karena dingin.

Akhirnya dengan bijaksana mereka memutuskan untuk berkumpul dan berdekatan kembali. Dan mereka pun belajar untuk hidup dengan luka-luka kecil karena saling berdekatan dengan sesama landak untuk tetap merasa hangat. Cara ini yang kemudian membuat mereka selamat dan bisa bertahan hidup.

Kisah landak ini mengajarkan kita, bahwa hubungan sempurna yang dijalin dalam sebuah kehidupan ini adalah sebuah hubungan di mana semua individu belajar hidup dengan ketidaksempurnaan orang lain. Melalui kisah ini kita juga diingatkan untuk menerima dan menghormati kehangatan yang diberikan oleh orang terdekat. Sehingga hidup akan terasa lebih bermakna dan membuat setiap kita bisa bertahan hidup sekalipun dalam situasi terpuruk.

Selain itu, ingatlah bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan paling aman, ceritakanlah segala hal kekhawatiran tentang apapun juga dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Sebab Dia rindu untuk mendengar anda. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 91:2, “Tuhan, tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” Allah mungkin tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi Dia berjanji akan menolong kita melewatinya.


sumber : http://www.jawaban.com

Jumat, 27 Desember 2013

Natal yang menanti Sosok Yesus

Banyak yang tidak meyakini YESUS lahir tanggal 25 Desember. Beberapa ahli mengatakan YESUS lahir di bulan Maret, bahkan ada juga yang mengatakan di antara bulan Mei-Juni. Anyway, bukan hal itu yang akan kita bahas hari ini. Mari kita kembali ke topiknya. Jika Anda tumbuh dan besar di keluarga Kristen, sebagian besar orangtua Anda pasti pernah memperkenalkan Sinterklas kepada Anda. Atau mungkin Anda mengenal sosok ini dari film. Selalu diceritakan Sinterklas datang naik kereta kuda, membawa banyak hadiah, masuk lewat cerobong asap, dan menaruh hadiah di kaos kaki yang tergantung. Padahal 95% rumah di Indonesia tidak memiliki cerobong asap. Sepertinya di Indonesia, Sinterklas mau tidak mau harus masuk lewat garasi atau pintu depan. Sepanjang Desember sosok Sinterklas ini muncul di mana-mana, lalu menghilang tanpa jejak dari Januari sampai November. Sadar atau tidak, faktanya banyak anak Kristen yang tumbuh besar dengan ingatan yang lebih kuat mengenai Sinterklas dan Rudolph si rusa berhidung merah yang muncul sekali setahun, daripada tentang YESUS, Juruslamat yang datang ke dunia dan yang selalu ada bersama-sama dengan kita sepanjang tahun.

Memang sepertinya jauh lebih menarik bercerita mengenai Sinterklas yang datang dengan hadiah dibandingkan bercerita mengenai YESUS yang lahir di kandang domba. Padahal sosok pria berjanggut putih bertubuh gempal ini namanya bahkan tidak disebutkan dalam Alkitab. Dunia ini memang tahu sekali cara mengalihkan perhatian kita dari YESUS. Teman, bukan Sinterklas yang datang untuk menyelamatkan dunia, tetapi YESUS. DIA-lah satu-satunya tokoh yang semestinya kita rayakan saat Natal. Anak-anak kita seharusnya lebih kagum dengan YESUS, Tuhan dan Juruselamat mereka, ketimbang dengan Sinterklas. Sejujurnya saya jarang sekali melihat orangtua yang mau mengabadikan foto anaknya bersama bayi YESUS di palungan.

Jika Anda memiliki anak atau keponakan, perkenalkan YESUS kepada mereka sejak kecil. Nama YESUSlah yang menyelamatkan dan memberikan pengharapan kepada mereka, bukan Sinterklas. Mungkin terlihat lucu ketika anak-anak kita berfoto di kereta kuda, dihiasi salju palsu, di bawah pohon natal besar yang bertaburan banyak hadiah. Namun suatu hari kelak kita juga yang akan menangis ketika melihat anak-anak kita yang sudah dewasa merayakan Natal dengan kereta kuda yang sama, Sinterklas yang sama, pohon natal yang lebih besar, hadiah yang lebih banyak, namun hidup mereka jauh dari YESUS. Anda memiliki kesempatan untuk mengubah sejarah itu hari ini. Biarlah YESUS yang menjadi sosok yang selalu dinantikan oleh anak-anak kita saat mereka merayakan Natal.

Sabtu, 21 September 2013

Mutiara Di Dalam Susan Boyle

Mutiara Di Dalam Susan Boyle - Dia tidak cantik. Tubuhnya gemuk. Usianya pun sudah tak muda lagi. 47 tahun. Dia kikuk dan cara berdandannya ngepas banget. Tapi ketika dia menyanyikan I Dreamed a Dream, juri dan penonton pada acara reality show “Britain’s Got Talent” terpesona pada alunan suara emasnya.

Ketika lahir, Susan sempat kehabisan oksigen dan itu membuat perkembangan otaknya sedikit abnormal. Waktu sekolah, ia sedikit terbelakang dan sering menjadi bahan ejekan teman-temannya. Susan serius menekuni hobinya menyanyi. Dia belajar pada seorang guru vokal, Freid O’ Neil. Dia juga rajin datang ke teater untuk menonton para penyanyi profesional.

14 tahun silam, Susan pernah ikut audisi “My Kind of People”, tetapi ia begitu grogi sehingga gagal. Dia pernah rekaman album “Cry Me a River” untuk peringatan pergantian milenium di kampung halamannya. 

Sang ibu terus mendorong Susan agar ia ikut kompetisi menyanyi nasional, tetapi Susan merasa tidak siap. Setelah ibunya meninggal, Susan tampil di Britain’s Got Talent. Pentas ini membuat ia diundang ke Oprah Show. Simon Cowell mengatakan : “Jika Susan pergi ke acara Oprah, saya pikir besar peluangnya untuk memiliki album nomor satu di Amerika.”

Tentang pandangan orang-orang yang suka merendahkannya karena melihat penampilan fisik dan kekurangannya, Susan berkata : “Masyarakat modern saat ini terlalu mudah menilai orang lain hanya berdasarkan penampilan. Tidak banyak yang bisa kamu lakukan tentang hal ini. Inilah cara berpikir yang ada saat ini. Tetapi, dengan apa yang terjadi saat ini mungkin bisa menjadi pelajaran buat mereka, sebuah teladan atau contoh.”


Dan, Susan boyle adalah contoh yang luar biasa. Dia punya mutiara berharga di dalam hidupnya. Seperti kata pepatah, Don’t judge a book by its cover. Itulah Susan Boyle. 

Sama halnya ketika nabi Samuel menilai kakak-kakak dari Daud sebagai orang yang dipilih Allah untuk diurapi sebagai raja Israel, karena memiliki fisik yang baik, Allah tegas menolak, "Teteapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnyaatau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Sam 16:7)

Tuhan telah menaruh talenta didalam dirikita yang bisa digali dan dikembangkan,bagaimana kondisi fisik kita, kita tetap berharga dimata Tuhan. Berkaryalah lewat talenta yang diberikan Tuhan.

Minggu, 15 September 2013

Stop Berbohong - Renungan Wanita

Ayat bacaan : “Karena itu buanglah dusta dan berkata benar seorang   pada yang lain, karena kita adalah sesama anggota”  Efesus 4 : 25

Stop Berbohong - Renungan Wanita  -  Sobat wanita……..
Pernahkah merasa kecewa karena dibohongi? Apalagi yang berbohong adalah orang-orang yang ada di dekat kita. Orang –orang yang seharusnya dapat kita percaya dan andalkan.

Kebanyakan kita sebagai wanita selalu menjadi tertuduh saat ingin membuktikan kebohongan itu. Bahkan ada beberapa tips dunia tentang kebohongan, berbohong itu tidak apa-apa demi kebaikan; berbohong sedikit tidak apa agar bisnis berhasil; bohong putih itu tidak masalah sebatas mempertahankan diri; kaum pria pun seringkali berbohong untuk menyenangkan pasangannya dan cenderung berbohong apabila kebenaran itu dapat menyakitkan pasangannya.

Kita dapat mendeteksi bahasa tubuh pasangan kita saat berbohong melalui gaya tubuh pada umumnya, namun tidak semua dapat disamakan ratakan :
  • Kecepatan berbicara  lebih dominan saat wanita mencari tahu sesuatu, ia akan cepat menjawab. Biasanya kaum pria lebih santai dalam merespon/ adanya jeda untuk menjawab pertanyaan, namun sekarang lebih cepat terkesan terburu-buru
  • Saat kita mencurigai sesuatu , maka ia akan menaikkan alis dan selalu memastikan untuk berkali- kali berkata “, Kamu percaya sama aku kan ?”
  • Memuji pada saat yang tidak tepat untuk mengalihkan pembicaraan dengan gugup
  • Memeras tangan tanda gugup atau tangan dilipat/disilangkan menunjukkan  sedang menyimpan sesuatu
Kebohongan itu terjadi karena motivasi tertentu atau disebabkan oleh kepribadian yang ingin lebih diperhatikan dalam berinteraksi  dengan orang lain, ada juga kebohongan yang mencari keuntungan bagi diri sendiri atau  untuk menyenangkan orang lain.

Namun,  Firman Tuhan menyatakan tidak ada alasan untuk dapat berdusta….memang itu tidak mudah dan mengandung banyak resiko dalam berinteraksi dengan orang lain. Percayalah ,bahwa ketika kita mau belajar untuk berserah dan mengandalkan Tuhan, maka kita akan mampu tidak berbohong. Jangan kuatir kita akan diberikan hikmat /cara lain untuk menyatakan hal kebenaran dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
Bagaimanakah sikap kita sebagai wanita Kristen terhadap pasangan yang suka berbohong :
  1. Tetap berpikir positif dan alihkan pada pembelaan Tuhan
  2. Jangan menuduh ,tetapi semua keraguan itu harus beralasan dan berdasarkan bukti
  3. Selalu introspeksi diri , jangan memiliki pemikiran negatif  karena masa lalu apakah kita takut dikhianati, atau ada trauma yang membuat kita selalu cemburu pada pasangan kita
  4. Apabila pasangan kita sering berbohong dan wanita tidak mempunyai masalah dengan rasa cemburu /curiga maka sebaiknya wanita mengajak diskusi dengan pasangan wanita secara dewasa. Bertanya dengan hikmat dan kasih , dengar alasan pasangan kita melakukan hal itu.
  5. Mengandalkan Tuhan dengan memperkatakan Firman Tuhan, doa, dan  perkataan positif setiap hari contoh : “ Saya wanita diberkati karena Tuhan sudah memberikan pasangan hidup yang setia, dan kemanapun dia melangkah dan di manapun ia berada selalu ada malaikatMu berjaga-jaga menjauhkannya dari setiap hal-hal negatif yang ada.’ Amin.
sumber : harianwanita.com

Sabtu, 14 September 2013

Empat Kakek - Kisah Renungan

Empat Kakek ~ Inilah kiasan mengenai prioritas dalam hidup. Suatu hari ada empat kakek yang berdiri dibawah hujan deras. Udara semakin dingin dan mereka basah kuyup. Seorang gadis didalam rumah mengintip keluar kaca jendela rumahnya dan melihat empat kakek yang kehujanan. Ia mengundang mereka untuk berteduh.

Namun keempat kakek itu berkata, "Tidak! kami tidak dapat masuk sebelum seluruh keluargamu pulang kerumah dan memutuskan yang mana dari kami yang boleh masuk sebab kamu hanya bole mengundang satu dari kami. Jika kamu mengundang orang yang tepat makan keempat kami bisa masuk. Jika kamu mengundang kakek yang salah maka hanya satu yang akan masuk".

Ketika keluarganya sudah pulang, mereka membahasnya. Gadis ini berkata, "Keempat kakek itu tidak mau masuk sebelum kita memutuskan siapa orang yang tepat, jika kita memutuskan siapa orang yang tepat maka mereka semua bisa masuk."

Dan empat kakek ini memiliki  nama : Kekayaan, Kesuksesan, Kedamaian dan Keharmonisan. Lalu ayah gadis itu berkata, "Aku selalu bekerja keras, namun meskipun aku bekerja keras aku tidak pernah mendapat banyak uang, dan pemerintah selalu mengambil sebagian pendapatanku dengan pajak dan juga ada banyak tagihan yang harus dibayar, dan hidup ini begitu sulit. Aku benar-benar menginginkan kekayaan."

Istrinya berkata, "Ah, jangan! aku tidak mau kekayaan. Aku hanya ingin kamu dan keluargaku sukses dalam hidup. Sukses jauh lebih penting daripada kekayaan."

"Tidak," jawab Ayah, "Kekayaan lebih penting!" "Bukan, Kesuksesan yang lebih penting!" jawab istrinya , "Kekayaan!!" seru sang ayah.
Lalu putri mereka berkata "Papa dan Mama berhenti, yang aku inginkan hanyalah Kedamaian!"

Sesungguhnya itu memang benar, anda memerlukan kedamaian didalam rumah. Jadi anak perempuan mau kedamaian, sementara yang lain mengatakan, "Kekayaan juga bagus" dan istrinya berkata "Bukan!, sukses yang benar!" jadi mereka mulai bertengkar lagi.

Putranya akhirnya berkata, "Dari semua hal yang kuinginkan dirumah antara ibu, ayah, kakak dan aku adalah Keharmonisan." Mereka semua tercenung,, "Kamu benar juga, nak".

Jadi mereka mengundang keharmonisan datang terlebih dahulu  kedalam rumah. Ketika Keharmonisan masuk, ia berkata bahwa mereka telah membuat pilihan yang benar. Sebab saat keharmonisan masuk kedalam rumah anda maka yang akan mengikuti selanjutnya adalah Kedamaian, dengan kedamaian anda dapat meraih Kesuksesan, dan dengan kesuksesan anda dapat menemukan Kekayaan.

Jadi prioritas utama dalam hubungan dan kehidupan adalah Keharmonisan. Jika tidak, tiga lainnya tidak akan masuk.  :)

Sabtu, 13 Juli 2013

Bahaya Merokok | Part 1

"Segala sesuatu hal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhambakan oleh suatu apapun"   1 Korintus 6 : 12

Selasa, 09 Juli 2013

Tokoh di Balik Lidah

Tokoh di Balik Lidah - Pada umumnya kita semua sudah tahu betapa besar peran perkataan atau ucapan dalam kehidupan. Banyak buku yang ditulis dan khotbah yang disampaikan mengenai hal ini. Faktanya, mari kita jujur, seberapa besar pengaruh nasihat dan buku yang ditulis mengenai lidah tersebut? Tidak banyak. Sedikit yang bisa berubah dan dapat berucap dengan bijaksana walau sudah membaca buku dan mendengarkan khotbah mengenai penggunaan lidah. Seakan-akan mereka tidak pernah mengerti bahwa lidah berperan besar seperti kemudi kecil di kapal besar, dan lidah juga bisa berbahaya seperti api. Alkitab jelas mengatakan bahwa lidah bisa merupakan dunia kejahatan di antara anggota tubuh yang sukar dijinakkan (Yak. 3:4-8). Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena menganggap sepele hal penggunaan lidah, sehingga seseorang tidak pernah berhasil menguasainya. Satu hal yang harus diperhatikan untuk bisa berucap bijak adalah memperlakukan lidah sebagai bagian hidup yang dapat menjadi sangat berbahaya, merusak atau bahkan menghancurkan. Dapat menjadi berbahaya bukan berarti jahat, hal itu tergantung bagaimana mengelolanya. Sama seperti api dapat mendatangkan kebaikkan, tetapi juga dapat mendatangkan bencana. Oleh karena besarnya peranan lidah dalam kehidupan manusia, maka penggunaan lidah harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan (Mat. 12:36). Mengapa Alkitab secara khusus memberi perhatian kepada lidah? Mengapa bukan bagian tubuh yang lain? Sebab lidah dapat sangat berbahaya kalau tidak dikelola dengan baik.


Dengan memahami hal ini, kita harus menganggap lidah sebagai suatu ancaman yang membahayakan kalau tidak dikelola dengan baik. Dalam kitab Yakobus pasal 3 dikatakan bahwa binatang buas bisa dijinakkan tetapi lidah tidak mudah. Ini memberi suatu pesan agar kita dapat menjinakkan lidah. Persoalannya adalah dengan cara bagaimana kita dapat menjinakkan lidah? Tentu membiasakan diri tidak mengucapkan kata-kata yang tidak membawa dampak positif bagi orang lain. Dalam hal ini perkataan seperti sebuah peluru yang ditembakkan. Kita harus cakap menggunakan senapan yaitu lidah kita, kapan menarik picu dan dengan peluru apa. Kita harus mulai belajar mengendalikan lidah dengan memperhitungkan setiap perkataan yang kita ucapkan. Mengucapkan perkataan seperti membelanjakan uang. Memang uang bisa habis bila dibelanjakan, berbeda dengan perkataan yang memiliki persediaan tanba batas selama hidup di dunia ini. Justru dengan tanpa batas ini lebih berbahaya, sebab kalau seseorang tidak mampu menjinakkannya, maka ucapan akan mendatangkan bencana kepada banyak pihak.

So, jaga perkataan kita melalui lidah ya teman-teman. Tuhan memberkati.. 

Source : Buku Renungan Truth /

Ketika Matahari Berhenti Bersinar - Cerita Renungan

Ketika Matahari Berhenti Bersinar - Saat kita terbangun di pagi hari , terkadang kita lupa untuk bersyukur. Betapa indahnya matahari yang selalu setia memberikan semangat baru dalam kita menjalani kehidupan. Dalam renungan ini , saya mencoba mengangankan bagaimana jika matahari berhenti bersinar apa yang akan terjadi nantinya...

Disaat matahari bersinar berhenti ...
Dunia akan mengambang di bayangan keputusasaan , Orang akan mati , Bumi akan menjadi gelap dan dingin. Dan disana tidak ada apa -apa hanya kesia-siaanya yang tersisa dari dunia ini.


Sebuah dunia yang diletakkan di jalan menuju sukses dari penciptaa. Tetapi orang-orang yang membuat dunia seperti rencana mereka sendiri. Saat Bumi berhenti untuk sepersekian detik dengan harapan agar orang-orang mendengar ,  tetapi setiap orang menjadi tuli dan tidak melihat bahwa alam semesta sedang menunggu mereka..

Mereka hanya memiliki visi untuk setiap tujuan mereka sendiri, karena itu mereka berjalan dengan mata tertutup tak melihat dunia ini dengan memegang setiap kesuksesaan ditangan mereka sendiri, lalu mengangkatnya dan berteriak bahwa mereka telah mencapai kesempurnaan..

Tetapi ketika setiap dari mereka sampai ke akhir, dan membuka mata egois masing-masing, mereka melihat debu hitam dan asap. Dan tempat yang mereka sebut rumah sedang dihancurkan

Hancur ...

Orang-orang dengan wajah mereka berkecil hati, mulai menangis dan melalui air mata.
Mereka terus menempatkan satu sama lain bersalah atas apa yang terjadi. Akhirnya mereka semua harus lakukan adalah membuka mata mereka dan melihat bahwa apa yang bisa menyelamatkan dunia ?? Apakah tidak mementingkan diri sendiri ?? apakah persatuan dan cinta untuk rumah mereka diberi

Karena ketika matahari bersinar berhenti
, Saya akan mengerti alasan itu. Apa yang menyenangkan benar-benar berasal dari bekerja tanpa apresiasi pada dunia ini? Bila Anda dapat menjaga panas dan cahaya untuk diri sendiri. Sama saja anda hanya mengikuti cara-cara orang didunia..  :)
 

Minggu, 23 Juni 2013

Iman Atau Nekat - Renungan

Ayat bacaan : Kisah Para Rasul 4:29
Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.

Iman Atau Nekat - Kadang-kadang sulit dibedakan antara tindakan iman dan tindakan nekat. Pada kisah dalam ayat bacaan diatas, permintaan para murid ini nampak seperti tindakan nekat. Ketika menghadapi ancaman para pembesar dan pemuka Yahudi yang melarang mereka untuk memberitakan Firman Tuhan, mereka justru berdoa agar diberi keberanian untuk tetap memberitakan firman!

Ada tiga tindakan yang dapat digolongkan sebagai tindakan nekat.
  1. Tuhan tidak menyuruh tetapi kita langsung bertindak tanpa bertanya terlebih dahulu kepada-Nya.
  2. Tuhan melarang dan kita tetap melanggarnya. 
  3. Tuhan tidak menyuruh dan melarangnya, dan kita melangkah tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu dengan akal budi yang sehat.

Sementara, tindakan iman adalah tindakan yang dibuat berdasarkan Firman Tuhan. Tindakan para murid di atas merupakan tindakan iman-langkah ketaatan terhadap kehendak Tuhan- karena memberitakan Firman Tuhan merupakan perintah yang Tuhan YESUS sendiri sampaikan untuk mereka lakukan..

 jadi lakukanlah hal yang seturut dengan kehendak Tuhan.. Tuhan memberkati  ^^

Jumat, 25 Januari 2013

Produktifitas dan Loyalitas | Renungan Kerja

Terkadang saya cukup sebal mendengar seseorang yang membanggakan diri dengan lamanya dia bekerja di sebuah perusahaan. Menunjukkan diri sebagai karyawan paling loyal di perusahaan itu. Jangan salah sangka, saya bukannya tidak menghargai arti sebuah kesetiaan. Kesetiaan yang dibuktikan dengan lamanya waktu bekerja memang penting. Tanpa hal ini perjalanan pun akan tersendat-sendat, bahkan bisa-bisa menjadi kacau dan yang pasti, ritme perusahaan menjadi kacau. Saya acungi jempol kepada mereka yang telah teruji secara waktu.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar kata loyalitas saja, hasil kerja dan produktifitas! Apa gunanya kita membanggakan loyalitas kita yang berpuluh-puluh tahun tetapi sebenarnya tidak ada sesuatu yang dihasilkan sama sekali? Apa gunanya mendapat penghargaan sebagai karyawan paling loyal namun kita tidak pernah memberi dampak kepada perusahaan?
Tidak jarang kita bertemu dengan seseorang yang baru bekerja satu dua tahun dalam sebuah perusahaan.

Namun, meski demikian prestasi kerjanya sangat membanggakan. Ia tak hanya menyelesaikan tugas dengan baik saja, tetapi ia juga mendukung kemajuan perusahaan. Laju perusahaan pun melaju cepat di tengah persaingan bisnis yang makin kompetitif. Langkah-langkah strategis yang ia ambil menentukan arah perusahaan yang makin efektif. Cara berpikirnya memberi warna tersendiri bagi perusahaannya. Menjadi kreatif dan inovatif sehingga kemajuan perusahaan pun terlihat dengan jelas!

Saya sangat yakin bahwa para owner akan berebut mendapatkan pekerja yang seperti ini, dibandingkan dengan pekerja yang memiliki stempel "loyalitas" saja. Jika Anda seorang yang sanggat bangga dengan stempel loyalitas yang Anda miliki, saya usulkan agar Anda juga bangga dengan stempel "kualitas kerja dan produktifitas". Orang dihargai bukan hanya dilihat dari sudut pandang loyalitas saja, tapi juga dari produktifitas kerjanya.

Orang dihargai bukan hanya dari loyalitas saja tapi juga produktifitas.

Rabu, 23 Januari 2013

Konsekuensi Sebuah Keputusan

Konsekuensi Sebuah Keputusan - Aktivitas paling menyenangkan di keluarga kami adalah perbincangan sebelum tidur malam. Suatu kali si bungsu menceritakan keinginannya menjelajah dunia mencari beasiswa untuk sekolah di banyak tempat dan berkarier di banyak negara. Saya memang bangga dengan prestasinya. Namun, saya mengingatkannya pada konsekuensi cita-cita itu: ia harus belajar dan bekerja lebih keras supaya dapat meraih beasiswa dan mampu bersaing dengan tenaga kerja terdidik lainnya.

Tampilnya Yesus dengan pengajaran yang berkharisma, dengan kuasa ilahi untuk menyembuhkan, serta kepribadian-Nya yang hangat, memesona begitu banyak orang. Lalu sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang ahli Taurat kaum yang ”biasanya” memusuhi dan mencari kesalahan Yesus dengan penuh kekaguman menyapa Yesus sebagai ”rabi” (guru besar). Bahkan, ia menyatakan kerinduan untuk ikut Yesus ke mana pun. Saat menanggapinya, Yesus seolah-olah berkata: ”Sebelum mengikut Aku, sadarilah keputusanmu, sebab ada harga yang harus kaubayar.”

Yesus tak ingin menggalang pengikut yang hanya terseret emosi sesaat. Semangatnya mudah berkobar, tetapi sebentar kemudian surut dan lenyap. Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib (Matius 10:38), lebih mengutamakan Dia di atas kepentingan sendiri dan keluarga (Lukas 14:26), dan membagikan harta bagi orang miskin (Matius 19:21). Sanggupkah Anda memikul konsekuensi dari keputusan mengikut Dia? Jangan ambil keputusan karena emosi atau ambisi. Ambillah keputusan karena Anda menyadari bahwa Dia yang memanggil maka Dia akan memampukan Anda untuk setia mengiring dan melayani-Nya.

IKUTLAH YESUS BUKAN UNTUK MENCARI BERKAT
TETAPI UNTUK MENJADI BERKAT

source : renunganharian.net

Selasa, 22 Januari 2013

Berdiam Diri di Kaki Tuhan

Taukah anda Henry Weiss, adalah ahli meloloskan diri dari berbagai perangkap: tali, pintu sel, borgol, dan sebagainya dan sekarang ini kita lebih mengenalnya dengan nama Houdini. Namun, suatu kali saat berada di penjara kecil bernama British Isles, ia kesulitan membuka kunci sel tersebut. Biasanya, dalam tiga puluh detik ia dapat membuka kunci sel, tetapi kali ini tidak. Ia pun lelah, frustrasi, dan putus asa. Maka, ia tak lagi berbuat apa-apa. Ia terdiam, lalu menyandarkan diri ke pintu. Anehnya, pintu itu segera terbuka sebab ternyata tidak terkunci! Ketika berdiam diri, ia justru menemukan penyelesaian masalahnya.

Ini mungkin peristiwa langka. Namun, ia mengingatkan kita bahwa dalam hidup yang penuh masalah ini, kita perlu punya waktu-waktu khusus untuk berdiam diri khususnya di kaki Tuhan. Berdiam diri membuat pikiran kita tenang, emosi kita terkendali, dan kita mendapat hikmat Tuhan untuk mengatasi masalah. Sayangnya, kerap kali kita tidak berdiam diri di kaki Tuhan saat masalah datang. Kita malah memikirkan sendiri masalah yang sedang kita hadapi, dan sibuk mencari cara untuk mengatasinya. Hasilnya, kita frustrasi dan putus asa.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Ketika melakukannya, pemazmur mengalami bagaimana Tuhan bertindak. Dan, ia bersaksi bahwa Allah itu “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ayat 2). Jalan keluar serta jawabannya barangkali di luar dugaan kita, bahkan sangat berbeda dengan cara-cara yang sudah kita bayangkan. Jika Dia terbukti dapat selalu menolong, mengapa kita menunda untuk duduk diam di kaki-Nya

TUHAN TAK PERNAH KEKURANGAN CARA UNTUK MENOLONG KITA
JADI MENGAPA KITA TIDAK MENGANDALKAN DIA?

Senin, 21 Januari 2013

Roti Gosong - Renungan

Baca: Mazmur 65

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu. (Mazmur 65:12a)

Roti Gosong - Renungan - Saat Alin masih kecil, ibunya menyajikan makan malam berupa telur goreng, saus, dan beberapa kerat roti. Mungkin karena lelah setelah bekerja seharian, ibu Alin memanggang roti sampai gosong. Alin tegang menunggu respon ayahnya. Ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, memolesnya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Ibu Alin meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, Alin menghampiri ayahnya dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti gosong. Sambil memeluknya, si ayah berkata, "Ibumu sudah lelah bekerja. Lagi pula, kita tidak akan sakit karena memakan roti gosong. Bersyukur saja ia masih bersama kita."

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Saat merenung ke belakang, manakah yang menjadi fokus kita? Bagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Sepatutnya kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpahi dan melingkupi kita. Ya, kasih-Nya nyata dalam berbagai aspek kehidupan: dalam pengampunan-Nya yang tak ternilai dan undangan-Nya untuk menikmati damai bersama-Nya (ay. 3-5); dalam penyelamatan-Nya, juga kebajikan dan mukjizat-Nya yang mengikuti kita (ay. 6-9); dalam pintu kesempatan dan mata pencaharian yang Dia sediakan untuk memberi kita kecukupan (ay. 10-14). Sungguh suatu berkat indah yang memahkotai tahun-tahun kita, bukan?—AW

SELAMA JANTUNG KITA MASIH BERDETAK
BERARTI KITA MASIH DAPAT BERSYUKUR MENGHITUNG BERKAT

source : renunganharian

Minggu, 20 Januari 2013

Siapa Bisa Dipercaya - Renungan

Bacaan: Lukas 12:41-48

Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.- Amsal 28:20



Siapa Bisa Dipercaya ?Siapa yang tak ingin menjadi orang yang dipercaya? Siapa yang tak suka menjadi orang kepercayaan Sang Big Boss? Orang yang ingin meningkatkan karirnya selalu ingin menjadi orang yang dipercaya. Masalahnya menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Lamanya kita bekerja, kepandaian kita, gelar ijazah kita, atau pengalaman kerja kita belumlah cukup untuk menjadikan kita orang yang dipercaya. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi orang kepercayaan atasan kita?

Satu, milikilah integritas. Kepercayaan dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa integritas jelas kita tidak akan dipercaya. Integritas berarti memiliki karakter yang baik. Di jaman ini, karakter yang baik tetap jadi modal utama agar kita bisa dipercaya.

Dua, Milikilah komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, jelas kita tidak dipercaya. Bagaimana mungkin seorang atasan akan mempercayakan hal yang lebih besar kepada orang yang bermalas-malasan dalam bekerja?

Ketiga, Jadilah orang yang berkompeten. Kompetensi artinya memiliki kualitas unggul dan andal. Tingkatkan terus kinerja kita. Gali potensi diri dan munculkan ide serta gagasan-gagasan baru. Orang yang berkompetensi biasanya menjadi kontributor utama dalam sebuah perusahaan. Itu sebabnya orang yang memiliki kompetensi akan selalu diprioritaskan dan dipercaya.

Keempat, Miliki tanggung jawab. Maukah Anda memberi kepercayaan kepada orang yang tak bertanggung jawab? Jelas tidak! Bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar kita bisa dipercaya. Jika kita masih diberikan tanggung jawab yang kecil, jangan meremehkan atau malah berputus asa. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah, jika kita bisa dipercaya dengan tanggung jawab kecil, pasti kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab yang mengajak kita untuk setia dalam perkara kecil karena dari situlah akan lahir perkara-perkara yang lebih besar.
Salah satu ciri orang sukses adalah bisa dipercaya.

Sabtu, 19 Januari 2013

Harga Sebuah Pilihan - Renungan


Baca: Rut 1:1-22
Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengkuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi... bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. (Rut 1:16)

Rut dan Orpa adalah dua perempuan Moab dengan nasib yang hampir sama. Keduanya menjadi menantu bangsa asing di negeri sendiri, lalu menjadi janda pada usia muda. Mereka tinggal bersama Naomi, mertua mereka yang juga sudah menjanda. Ketika Naomi mendengar bahwa bencana kelaparan di Betlehem, Israel, tempat asalnya, telah berlalu, ia berniat pulang kampung. Kelaparan itulah penyebab keluarganya bermigrasi sepuluh tahun lalu. Telah tersedianya kembali makanan di Betlehem–yang berarti Rumah Roti–menunjukkan bahwa Tuhan telah kembali memperhatikan umat-Nya.

Rut dan Orpa harus memilih: tetap tinggal di negeri mereka atau ikut ke sebuah negeri baru dengan masa depan yang tidak jelas. Naomi mendesak Rut untuk tinggal di Moab, agar tetap dekat dengan handai tolan dan dewa-dewa mereka. Tetapi, Rut bersikeras mendampingi mertuanya. Peneguhan imannya bahkan terlihat dalam argumentasinya. Orpa memilih tinggal, dan ia hilang dari catatan sejarah. Sebaliknya, Rut menjadi salah satu perempuan asing yang dipakai Tuhan untuk melahirkan Yesus, Sang Juru Selamat (Mat. 1:5).

Setiap orang mengambil ratusan, bahkan ribuan, pilihan setiap hari. Ada pilihan yang mudah, namun ada yang sulit. Ada pilihan yang sepertinya tidak berdampak apa-apa, namun ada juga pilihan yang seolah mempertaruhkan seluruh hidup. Pilihan Anda dapat menunjukkan identitas dan kondisi Anda. Apakah iman Anda selalu berperan ketika Anda menentukan berbagai pilihan?—HEM 
BAHKAN SAAT ANDA TAK PUNYA PILIHAN,
PILIHLAH TUHAN

 sumber : renunganharian

Before & After - Renungan Pemuda

Bacaan: Roma 12:1-2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...- Roma 12:2



"Hei, coba liat nih! Asik banget kayanya, ya! Kita musti coba, nih!" seru Mimi si ceriwis sambil menyodorkan selembar brosur kecantikan. Rupanya ada sebuah klinik kecantikan yang baru aja dibuka di dekat kampus kami. Mimi barusan mendapatkan promosinya. Di brosur itu tertera foto "sebelum" dan "sesudah" menjalani terapi kecantikan. Cewek yang semula gemuk jadi langsing. Yang kulitnya bopeng-bopeng jadi mulus. Yang kulitnya hitam jadi putih bersih. Yang botak jadi berambut panjang indah terurai. Pokoknya klinik itu komplit banget fasilitas dan layanannya.

Dengan foto "Before" and "After", banyak orang jadi pengen mencoba terapi di klinik itu. Kalo seandainya gambar sebelum dan sesudah sama aja, nggak jauh bedanya, tentu orang nggak akan berminat buat mengikuti terapi kecantikan itu. Buat apa bayar mahal-mahal kalo hasilnya sama aja.

Sebenernya hidup kita ini bagaikan brosur kecantikan itu. Kita bisa membuat orang tertarik untuk datang kepada Tuhan kalo hidup kita yang sekarang berbeda dari yang dulu. Sejak kita kenal Tuhan dan lahir baru, sikap hidup, tutur kata, perbuatan dan pemikiran kita jadi lebih indah dan nggak amburadul seperti dulu lagi. Perbedaan itu terpancar jelas dalam kehidupan kita. Tanpa perlu bersikap sok rohani pun, orang akan tau ada kemuliaan Tuhan terpancar dari hidup kita sehari-hari.

Tapi kalo hidup kita tetep sama hancurnya, nggak mungkin orang akan tertarik untuk mengenal Kristus. Nah, sekarang coba kita cek hidup kita ini. Sudahkah kita menjadi "brosur" yang berguna mengundang orang datang kepada Tuhan? Kalo belum, masih ada kesempatan untuk mengubahnya. Jadilah pribadi yang berbeda setelah mengenal Kristus.

Sabtu, 13 Oktober 2012

I Am What I Am | Baca Renungan

Ayat bacaan: Keluaran 3:14
"And God said to Moses, I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE" (English AMP)
]

Bergelut di dunia musik untuk masa waktu yang sudah lumayan lama membuat saya mengenal dan mendapati musisi-musisi yang justru bersinar sangat terang dibalik kelemahannya, baik mengenal secara pribadi maupun lewat sejarah hidup mereka. Ada seorang gitaris dengan gaya gypsi yang legendaris bernama Django Reinhardt. Lahir dengan jumlah jari utuh, musibah menimpanya di tahun 1928 ketika caravan yang ditumpanginya mengalami kebakaran. Tangan kirinya terbakar dengan kondisi yang sangat parah. Dengan sisa dua jari yang masih berfungsi di tangan kirinya ia malah berhasil menciptakan fingering system baru. Bayangkan memainkan senar-senar hanya dengan dua jari, mungkinkah? Rasanya sulit dipercaya. Tetapi Django justru mampu memainkan chord dan melodi keduanya hanya dengan dua jari. Django bersinar justru dibalik keterbatasan atau kelemahannya, mengatasi logika manusia. Di korea ada pianis muda wanita yang hanya memiliki empat jari. Tetapi ia mampu bermain lebih baik dari yang masih lengkap jari-jarinya. Di Indonesia saya bertemu dengan pemuda yang buta tetapi permainan pianonya sudah sekelas pemain terkenal dunia. Ada penyanyi yang buta, bahkan gitaris tim musik di gereja saya ada yang tidak mempunyai kaki dan sebelah tangan, tetapi masih mampu melayani para jemaat untuk memuji Tuhan sekalipun ia harus digendong untuk naik dan turun. Lewat mereka-mereka ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Mereka tidak meratapi kekurangan mereka. Mereka tidak berfokus kepada keterbatasan kondisi mereka, tidak memandang kepada apa yang mereka tidak punya melainkan memaksimalkan apa yang masih mereka punya, dan itu ternyata mampu membuat mereka bersinar dengan hebatnya.

Betapa seringnya kita hanya sibuk memandang keterbatasan dan kekurangan kita. Kita mengeluh atas kelemahan dan mengabaikan kelebihan kita. Kita merasa percuma dalam berjuang karena terlalu sibuk memandang segala keterbatasan kita. Kita ragu akan kemampuan kita, kita ragu akan kesempatan untuk berhasil, padahal keraguan bukannya menolong tetapi justru membuat kita makin terpuruk. Seorang tokoh Alkitab yang sangat terkenal bernama Musa ternyata pernah mengalami keraguan yang sama ketika ia diutus Tuhan. Musa saat itu tidak lagi muda, dan ia merasa bahwa kemampuannya berbicara tidaklah baik.  Maka ketika Tuhan tiba-tiba memanggilnya dikala Musa sedang menggembalakan domba-domba mertuanya Yitro, ia pun ragu. Banyak pertanyaan hadir di benaknya dan itu ia sampaikan kepada Tuhan. "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11). Jawab Tuhan: "Bukankah Aku akan menyertai engkau?" (ay 12). Musa kembali bertanya, dan kemudian lihatlah bagaimana jawaban Tuhan berikut: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (ay 14). Dalam bahasa Inggrisnya lebih tegas: "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Meski Tuhan sudah berkata sebegitu tegasnya, serangkaian pertanyaan masih dikemukakan Musa berdasarkan keraguannya akan kemampuan yang ia miliki. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:11). Jika melihat versi bahasa Inggris, kelihatannya Musa memiliki masalah dalam berbicara. "..for I am slow of speech and have a heavy and awkward tongue." Tapi lihatlah jawaban Tuhan: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11-12). Mungkin benar bahwa Musa punya kelemahan dalam hal berbicara. Musa bukanlah orator atau politisi yang pintar bersilat lidah, ia pun bukan penyair atau pengarang lagu yang handal merangkai kata. Tetapi Musa lupa satu hal, dan ini sangat penting. Bukan kemampuan kita yang menentukan, tetapi kuasa Tuhanlah yang memampukan.

Sepanjang berbagai kisah dalam Alkitab, Tuhan berulang kali membuktikan bahwa Dia sanggup memakai siapapun. Mulai dari gembala hingga pembantai orang Kristen, mulai dari anak-anak, wanita hingga orang tua, orang berdosa, pemungut cukai, nelayan, pelacur, semua bisa diubahkan Tuhan menjadi saluran berkatNya dan Dia pakai secara luar biasa. Paulus yang punya latar belakang sangat buruk sebagai pembantai orang Kristen, bisa diubahkan begitu luar biasa dalam sekejap. Paulus adalah mantan penjahat besar, tetapi bisakah kita bayangkan apa jadinya tanpa Paulus? Setelah Paulus aktif melayani, ia pun pada suatu kali pernah merasa terganggu atas kelemahannya dan meminta kepada Tuhan. Tetapi apa kata Tuhan? "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 2:9) Akhirnya Paulus pun menyadari bahwa bukan kemampuannya yang penting tetapi Tuhan lah yang memampukan, sehingga ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa dalam kelemahannya-lah dia menjadi kuat. (2 Korintus 12:10).

Kelemahan kita, ketidakmampuan kita, keterbatasan kita, kekurangan kita, bahkan ketidaklengkapan kita sekalipun bisa dipergunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Tuhan mampu memenuhi kita dengan kekuatan sehingga segala keterbasan kita bisa tetap dipakai untuk hal yang baik. Kita tetap bisa bersinar meski dalam keterbatasan. Yang pasti, jika itu rencana Tuhan, maka Dia sendiri telah menyediakan segala yang kita butuhkan. Dalam pandangan kita atau manusia mungkin itu terlihat tidak cukup, logika kita mungkin berkata bahwa apa yang kita miliki tidaklah ada apa-apanya, tetapi jika Tuhan yang menghendaki, maka apapun bisa terjadi. Para tokoh-tokoh musik yang saya sebutkan di atas sudah membuktikan bagaimana mereka justru bersinar terang di atas kelemahan mereka. Dalam melayani Tuhan pun demikian. Tidak harus super sarjana untuk berhasil dalam hidup, tidak harus jadi super pendeta untuk mampu melayani. Kita semua bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya. We all can be used for His glory. Berbagai latar belakang kita, selemah apapun, bisa diubah menjadi sumber berkat luar biasa. Dibalik segala kelemahan kita, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna. Bahkan Firman Tuhan secara spesifik berbicara mengenai hal ini dengan panjang lebar. "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti." (1 Korintus 1:25-28). Dalam segala keterbatasan kita, datanglah pada Tuhan dan berpeganglah padaNya. Kita akan terus bertumbuh dalam kekuatan, semangat, dan sukacita jika kita terus membangun hubungan dengan Bapa di Surga. Semua tergantung seberapa besar kita mau taat, seberapa besar kita mau mematuhi dan menuruti kehendakNya bagi hidup kita. Tuhan sudah berkata bukan kekuatan kita yang penting, melainkan kuasaNya. "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Kita harus menyadari betul bahwa "Akulah Aku", itu jauh lebih penting dari siapa aku. Berhentilah fokus terhadap kelemahan, tetapi maksimalkan terus apa yang ada pada kita. Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa lewat apapun yang ada pada kita hari ini, dan Dia sanggup memakai itu untuk menjadi saluran berkat kepada orang lain disekitar kita.

"Kuasa Tuhan justru sempurna dalam kelemahan kita"

source : RHO

I Am What I Am - Baca Renungan

Iman Mengalahkan Rasa Takut | Baca Renungan

Ayat bacaan: Mazmur 121:4

Iman Mengalahkan Rasa Takut - Seberapa jauh ketakutan bisa menghantui kita dan membuat kita tidak nyaman dan terganggu? Rasa takut bisa membuat kita tidak bisa berpikir, gampang emosi, sulit tidur hingga merusak kesehatan. Rasa takut pun bisa menjauhkan kita dari Tuhan, membuat jarak yang merentang semakin panjang sampai-sampai kita tidak lagi bisa mendengar suara Tuhan atau merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Bagaikan seseorang yang terus berjalan menjauhi lawan bicaranya, semakin menjauh maka semakin kecil pula suara yang terdengar hingga lama-lama ia tidak lagi bisa mendengar apapun yang dikatakan lawan bicaranya diseberang sana. Seperti itulah perasaan takut, cemas atau kuatir yang terus dibiarkan merongrong perasaan kita. Memang benar, ada saat dimana rasa takut itu bisa muncul ketika kita menghadapi sebuah atau beberapa masalah, atau ketika menghadapi situasi tak pasti. Solusi tidak terlihat, sementara kita harus terus berhadapan dengan masalah tersebut dari detik ke detik. Jika kita terus membiarkan diri kita dicekam perasaan takut, maka rasa takut ini akan terus menggali jarak antara kita dengan Tuhan sehingga pada suatu ketika nanti kita tidak lagi bisa mendengarnya dan merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita sendirian bahkan kemudian menjadi sinis dengan menuduh Tuhan bertindak kejam dan tidak adil terhadap kita.

Beberapa tokoh besar Alkitab pernah mengalami hal seperti ini dalam pergumulan mereka masing-masing. Ayub pernah mengalami kepahitan terhadap Tuhan. Lihat apa yang pernah ia katakan: "Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya. Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah." (Ayub 22:23). Atau lihatlah bagaimana Daud meratap ketika ia berada dalam pergumulan. "Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?" (Mazmur 10:1), "...janganlah berdiam diri terhadap aku..."(28:1), "Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!" (54:4), "Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku, janganlah bersembunyi terhadap permohonanku!" (55:2). Begitu sulitnya dunia yang kita jalani hari ini mengakibatkan banyak orang mulai kehilangan arah dan goyah imannya. Apakah benar Allah tidak sanggup mengangkat anak-anakNya keluar dari kesulitan? Tentu saja Tuhan sanggup. Tidak ada hal yang mustahil bagi Dia, tidak ada hal yang mustahil yang tidak sanggup Dia lakukan bagi orang percaya. Sesungguhnya Tuhan selalu perduli dan tidak pernah lengah dalam memperhatikan kita. Alkitab dengan jelas berkata: "Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel". (Mazmur 121:4).

Tuhan tetap ada mengawasi dan melindungi kita. Dia rindu untuk terus memberkati kita, bahkan menjanjikan posisi sebagai ahli waris KerajaanNya kepada semua orang yang mengasihiNya seperti apa yang tertulis dalam Yakobus 2:5. "Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?" Ketika hari-hari yang sulit ini tidak lagi bisa cukup disikapi dengan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau orang lain, inilah saat yang tepat bagi kita untuk menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidaklah mampu berbuat apa-apa. Di sinilah kita harus menyadari bahwa kita harus mengandalkan kekuatan Tuhan, Raja dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Membiarkan rasa takut terus tumbuh dalam hidup kita tidak akan pernah membawa manfaat apapun. Justru itu akan semakin memperbesar jarak antara kita dengan Bapa yang baik dan setia, dan itu akan membuat segalanya justru bertambah runyam. Karena itu kita harus mengatasi rasa takut kita dengan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita harus senantiasa berseru kepada Tuhan dan harus senantiasa membangun hubungan yang semakin intim lagi dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah lengah. Dia tidak pernah tertidur dalam menjaga kita, Israel secara rohani. Dia lebih dari sanggup untuk menurunkan mukjizatNya dan segera melepaskan anda dari himpitan beban masalah seperti apapun. Yang Dia perlukan hanyalah iman kita. Iman yang teguh, tidak goyah dalam kondisi apapun, dan tetap percaya dengan pengharapan penuh akan kuasa Tuhan.

Kita selanjutnya bisa melihat apa yang terjadi pada saat Yesus ada di dalam perahu bersama murid-muridNya ditengah badai dalam Matius 8:23-27. Benar, disana dikatakan Yesus tengah tidur di buritan. Dan pada saat itu murid-muridNya sempat panik menghadapi terjangan badai. (ay 24) Apakah itu berarti bahwa Tuhan tertidur dan lengah? Tentu saja tidak. Yesus tidak berkata, "maaf, Saya ketiduran.." atau "maaf saya lengah", tapi Yesus malah menegur murid-muridNya. "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali." (ay 26). Perhatikan bahwa situasi seperti apapun bukanlah menjadi masalah sulit bagi Tuhan. Tuhan justru menantikan reaksi dari kita untuk membangun sebuah hubungan yang didasari rasa percaya yang kokoh dan terus menjalin komunikasi yang baik dengan Dia.

Firman Tuhan berkata: "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5). Itulah yang terjadi apabila kita terus mengandalkan kekuatan sendiri sedang hati kita semakin menjauh dari Tuhan. Di saat seperti inilah kita harus mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih dari apapun juga. Kita harus mampu menyadari bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan yang tidak pernah padam. Janji-janji Tuhan tidak akan ada yang sia-sia. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji dan semuanya pasti Dia genapi. Imanilah hal itu dengan sungguh-sungguh, dan teruslah dekat padaNya dengan penuh rasa percaya. Dalam Mazmur dikatakan: "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23). Lalu ada pula tertulis "Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku." (63:7-9), dan juga "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (37:23). Ini semua adalah janji Tuhan yang berlaku bagi siapapun yang mengasihi Dia dengan iman yang teguh. Dalam Mazmur kemudian kita bisa menemukan sebuah pesan yang sangat indah, bahwa Tuhan akan selalu ada bagi kita semua yang setia dan berharap padaNya. (31:24-25). Masalah seperti apapun boleh datang, namun percayalah Tuhan sanggup melepaskan anda dari jeratan badai seganas apapun. Karenanya kalahkan rasa takut dengan iman anda, berpeganglah kepada Tuhan, Sang Penjaga Israel.

"Tuhan tidak pernah lengah menjaga anak-anakNya yang selalu mengasihi Dia dengan setia dan dengan iman yang teguh"

Jumat, 06 Juli 2012

Bersaksi Melalui Profesi | Baca Renungan

Bacaan : ... dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kisah 2:47)


Bersaksi Melalui Profesi - Dokter Teoh Seng Hing adalah salah satu dokter ginekologi di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Ia seorang kristiani. Semua orang yang saya kenal dan pernah menjadi pasiennya punya kesan yang sangat positif terhadapnya. Sebab selain ahli, ia juga sangat baik, sabar, telaten, ramah, penuh perhatian. Pasien bisa bebas dan nyaman berkonsultasi dengannya. Bahkan ketika Kezia, anak saya yang berumur 8 tahun, bertanya ini itu saat istri saya konsultasi, ia juga melayani dengan baik. Dengan sikapnya itu, Dokter Teoh telah menunjukkan kesaksian yang indah sebagai dokter kristiani.

Kekristenan berkembang bukan hanya karena peran para penginjil ternama. Namun juga melalui kesaksian hidup para "penginjil" anonim. Orang-orang yang dalam peran dan profesinya masing-masing telah memberi kesaksian indah bagi masyarakat sekitar. Seorang dokter-dokter kristiani yang berbeda dari dokter lain. Seorang pejabat-pejabat kristiani yang berbeda dari pejabat lain. Seorang mahasiswa-mahasiswa kristiani yang berbeda dari mahasiswa lain, dan sebagainya. Iman kristiani mereka betul-betul nyata dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap dan tutur kata yang ditunjukkan.

Jemaat mula-mula adalah jemaat yang bertumbuh sangat pesat. Ciri-ciri hidup mereka selain tekun dalam pengajaran para rasul (ayat 42), dan satu sama lain memiliki hidup kebersamaan yang kuat dan akrab (ayat 47), juga memberi pengaruh positif bagi orang-orang luar. "Dan mereka disukai semua orang" (ayat 47). Mari kita menjadi saksi yang setia, sehingga kehadiran kita sungguh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar -AYA

HIDUP KITA BAGAI KITAB TERBUKA YANG DIBACA SESAMA
MARI NYATAKAN KRISTUS DALAM TUTUR KATA DAN LAKU KITA

Source : alkitab.sabda.org

Menatah Kristus | Renungan Harian

Ayat bacaan Efesus 4: 17-32

Menatah Kristus
- Pada awal kariernya, Dannecker seorang pemahat dari perancis. Terkenal karna karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewa-dewi Yunani lainnya. Suatu kali iya terdorong untuk mencurahkan segenap energi dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Jadi ia bertekad untuk mengukir sosok Kristus.

Dua kali usahanya gagal sebelum akhirnya berhasil menatah patung Kristus secara prima. Karyanya begitu elok dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya tak ayal begitu mengagumi dan mencintainya.

Suatu hari ia menerima undangan dari Napoleon. "Datanglah ke Paris, " kata Napoleon. "Tolong ukirkan lagi saya patung Venus untuk di tempatkan di louvre." Dennecker menolak. Jawabannya sederhanan, namun telak: "Tuan, tangan yang pernah memahat Kristus ini tak dapat lagi menatah dewi kafir".

Sosok Kristus yang sejati, Adikarnyanya yang sesungguhnya, juga tengah "dipahat " didalam diri setiap anak Tuhan. Kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama yang duniawi dan mengenakan manusia baru yang rohani. Kalau dahulu kita "diukir" menurut pola pikir duniawi yang cenderung egois dan merusak, sekarang kita tengah "ditatah" untuk menjadi manusia baru, serupa dengan karakter Kristus (ayat 22-24). Proses pembentukan ini berlangsung melalui ketaatan kepada pimpinan Tuhan.

Proses ini belum selesai. Dunia akan berusaha merusaknya dan "Mencukil" kita kembali menurut polanya. Dannecker menantang kita untuk menolak upaya dunia dengan menyadari bahwa sebuah adikarya tengah dikerjakan di dalam dan melalui kehidupan kita. - mimin

Terima kasih sudah membaca renungan disini.. Salam n Tuhan memberkati ;)